Penulis; Anggiyuva
Halaman: 400 halaman
Sinopsis:
Tiga puluh delapan tahun mengarungi samudera pernikahan bukanlah tentang menemukan pasangan yang sempurna, melainkan tentang kesetiaan memegang janji saat badai tak kunjung reda. Bagi Ratna, pernikahan adalah sebuah ibadah panjang yang fondasinya dibangun di atas nasehat sederhana orang tuanya: “Menikah itu bukan hanya siap menerima kelebihannya, tapi harus lebih siap memeluk kekurangannya.” Kalimat inilah yang menjadi kompas sekaligus perisai Ratna selama tiga puluh delapan tahun mendampingi Hendra.
Perjalanan mereka bukanlah hamparan karpet merah. “Hujan badai” datang silih berganti… mulai dari krisis ekonomi yang nyaris meruntuhkan dapur mereka, perbedaan watak yang keras, hingga ego masa muda yang seringkali memicu percikan api. Namun, setiap kali badai itu datang, Ratna memilih untuk tetap berdiri di samping Hendra, memunguti sisi-sisi baik yang mungkin sudah terlupakan oleh orang lain.
Kini, di usia senja mereka, sebuah ujian baru kembali hadir. Bukan lagi soal materi, melainkan tentang menghadapi masa tua dengan segala kerapuhan fisik dan emosi yang semakin sensitif. Ratna kembali diuji: mampukah ia tetap memegang prinsipnya ketika “kekurangan” pasangan yang harus ia terima kini terasa lebih berat dari sebelumnya?
“Selalu Ada Rasa” adalah sebuah refleksi tentang ketangguhan seorang wanita dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Cerita ini membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah tentang ketiadaan konflik, melainkan tentang keputusan untuk tetap tinggal, tetap merawat, dan tetap mencintai meski musim telah berganti berkali-kali. Karena di setiap luka dan tawa yang mereka lalui, selalu ada rasa yang membuat semua perjuangan itu berharga.






Reviews
There are no reviews yet.