Penulis: Wiji Wijayanti
Halaman: 157 halaman
Blurb:
Bak sebuah taman penuh dengan aneka kembang, begitupun cerita tentang manusia. Mereka beraneka warna, bentuk dan cara menjalani kehidupan dengan segala pernik, intrik dan perjuangan. Hidup memang hanya sekali, maka harus dijalani dengan sebaik mungkin. Ada masa ketika harus memilih yang akan mengukir nasib kita kelak. Sebuah pilihan yang nantinya kita sesalkan, pilihan yang kita banggakan, atau pilihan yang menghantui kita selamanya.
Dalam cerita Cermin Buram, seorang reporter terkenal yang tersungkur oleh ambisinya, adalah bentuk sebuah pilihan untuk mendewakan diri. Sementara perjuangan seorang laki-laki yang tak punya asa, memilih untuk menemukan kembali harapan pada seekor Kucing Betina. Tak bisa memilih dengan hidup tanpa mempunyai cerita masa lalu, seorang wanita mencari jawab pada Sebuah Amplop Coklat. Dalam taman kehidupan, sekumpulan perangai manusia yang berprasangka buruk telah membunuh nurani mereka, menggores rasa Sesal yang akan terus menghantui. Sementara sebutir cinta yang tak pernah dimiliki, masih layak untuk terus diperjuangkan walau terasa seperti sebuah Asa tak Bermuara oleh seorang wanita yang percaya dengan kemurahan Tuhannya.
Kembang Setaman adalah gambaran kumpulan kehidupan tentang manusia. Kuncupnya memberikan harapan baru, mekarnya kelopak bunga simbol ketulusan hati untuk memberi, bijinya menyebarkan harapan yang akan terus tumbuh, rimbun daunnya ikhlas memberikan nafas kehidupan, sementara batangnya menggambarkan perjuangan untuk terus tumbuh tegak menghadapi hidup. Pada akhirnya semua akan layu, melayang perlahan lalu rebah kembali ke tanah, mengajarkan kerelaan akan kehilangan. Setiap kematian akan menyimpan arti untuk bumi.






Reviews
There are no reviews yet.