Penulis: Wiwi Yuningsih
Halaman: 250
Sinopsis:
Ternyata, sedih tidak selalu harus dirayakan dengan air mata yang berderai. Hari itu aku belajar bahwa luka terdalam sering kali mewujud dalam keheningan yang paling sunyi.
Ini bukan sekadar cerita tentang titik terendah yang membuat seorang perempuan menyerah. Sebaliknya, dengan segala keterbatasan, Bu Maya memilih bangkit berulang kali meski dijatuhkan tanpa ampun.
Sendirian di tengah badai, dia menangis seperlunya, menerima luka, dan terus bergerak dalam diam. Tanpa mengeluh, dia melangkah maju. Karena dia tahu, di jalan sunyi yang dipilihnya, dia tidak pernah benar-benar sendirian.






Reviews
There are no reviews yet.